Kelompok 4
KESEIMBANGAN
EKONOMI TIGA SEKTOR
Dosen Pengampu : Anas
Malik,SE.I,.ME.Sy
Disusun oleh:
Retno Dwi Nurfalah (1551020278)
![]() |
JURUSAN
PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUS
AGAMAISLAM NEGERI
RADEN INTAN
LAMPUNG
1439 H/2017
M
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami ucapkan kepada Allah Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat,
inayah, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat kami
selesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada
panutan kita Nabi Muhammad SAW dan para pengikut ajarannya.
Dalam
kesempatan ini, saya juga mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Bapak Anas
Malik,SE.I,.ME.Sy, selaku dosen Mata Kuliah Ekonomi Makro
Islam yang telah membimbing saya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini,
2.
Orang tua yang selalu mendoakan dan
mendukung saya, dan
3.
Teman-teman seperjuangan yang telah memberi
dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa
masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, saya
sangat membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan
penyempurnaan makalah ini.
Sukarame, 23 Maret 2017
Penulis
DAFTAR ISI
COVER............................................................................................................
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................ 1
C.
Tujuan.................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Keseimbangan Ekonomi Tiga Sektor........................... 3
B.
Aliran Pendapatan dan Syarat
Keseimbangan............................... 3
C.
Syarat
Keseimbangan.................................................................... 4
D.
Jenis-Jenis
Pajak............................................................................. 7
E. Unsur-Unsur Pajak......................................................................... 9
F. Efek
Pajak Keatas Konsumsi Dan Tabungan .............................. 10
G. Efek
Pajak Terhadap Konsumsi Dan Tabungan........................... 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................... 14
B.
Saran............................................................................................. 14
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam perekonomian yang sebenarnya corak kegiatan
ekonomi adalah jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Untuk memberikan
gambaran yang lebih mendekati dari keadaan
yang sebenarnya dalam makalah ini akan di bahas tentang perekonomian tiga sektor.
Sistem Perekonomian tiga sektor merupakan perekonomian yg terdiri dari
sektor-sektor rumah tangga, perusahaan dan pemerintah.
Terdapat kelemahan pada sistem persaingan sempurna pada tahun 1930
terjadi Depresi besar, sehingga campur tangan pemerintah dibutuhkan
untuk mengatur kegiatan ekonomi agar sistem pasar bebas dapat berjalan secara
efisien. Kelemahan tersebut antara lain keadaan yang diasumsikan jauh dari
kenyataan, adanya perbedaan yang mencolok antara keuntungan yang diperoleh
masyarakat dengan yang diperoleh perusahaan, distribusi pendapatan tidak
merata, dan tingkat penggunaan tenaga kerja yang tidak penuh sehingga terjadi
pengangguran besar - besaran. Terdapat dua perubahan penting dalam perekonomian
yaitu pungutan pajak akan mengurangi agregat melalui pengurangan konsumsi rumah
tangga dan pajak memungkinkan pemerintah melakukan pembelanjaan dan ini akan
menaikkan pembelanjaan agregat. Peranan pemerintah dalam perekonomian tiga
sektor diantarannya membuat peraturan - peraturan untuk mempertinggi efisiensi
kegiatan ekonomi antara lain yaitu menciptakan suasana ekonomi dan sosial yang mendorong kearah
terciptannya kegiatan ekonomi yang efisien, menciptakan persaingan bebas,
menghapus kekuatan monopoli, menyelenggarakan sendiri berbagai kegiatan ekonomi
dan menjalankan kebijaksanaan moneter dan fiskal.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian dari keseimbangan ekonomi tiga sektor?
2. Apa
saja syarat-syarat keseimbangan ekonomi tiga sektor?
3. Apa
saja unsur-unsur pajak?
C.
Tujuan
Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas,
ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini, yaitu
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengertian dari
keseimbangan ekonomi tiga sektor.
2.
Untuk mengetahui syarat-syarat
keseimbangan ekonomi tiga sektor.
3.
Untuk mengetahui unsur-unsur pajak.
.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Keseimbangan Ekonomi Tiga Sektor
Perekonomian
tiga sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor-sektor yang berikut :
rumah tangga, perusahaan dan pemerintahan. Dengan demikian dalam menganalisis
perekonomian tiga sektor pada hakikatnya akan diperhatikan peranan dan pengaruh
pemeritah ke atas kegiatan dalam sesuatu perekonomian.
Campur
tangan pemerintah dalam perekonomian menimbulkan dua perubahan penting dalam
proses penentuan keseimbangan pendapatan nasional, yaitu:
1. Pungutan
pajak yang dilakukan pemerintah akan mengurangi pengeluaran agregat melalui
pungutan keatas konsumsi rumah tangga.
2. Pajak
memungkinkan pemerintah melakukan perbelanjaan dana ini akan menaikkan
pembelanjaan agregat.
Perubahan-perubahan
ini penting pengaruhnya kepada penentuan keseimbangan pendapatan rasional.
Dalam
perekonomian tiga sektor kegiatan perdagangan luar negeri masih diabaikan.
Dalam menganalisis perekonomian tiga sektor masih tetap dimisalkan kegiatan
ekspor dan impor tidak dilakukan. Ini berarti analisis yang dibuat masih
memisalkan bahwa barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan tidak dijual ke
luar negeri dan masyarakat atau perusahaan tidak membeli dan mengunakan
barang-barang dan jasa yang diimpor. Disebabkan oleh ketiadaan perdagangan luar
negeri maka perekonomian tiga sektor dinamakan juga perekonomian tertutup.
B.
Aliran
Pendapatan Dan Syarat Keseimbangan
Analisis
keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sektor bertujuan untuk
menunjukkan penentuan pendapatan nasional dalam perekonomian dimana terdapat
pemerintah. Untuk memahami analisis tersebut dengan baik perlulah terlebih
dahulu disadari pola aliranpendapatan dan pengeluaran yag berlaku dalam
perekonomian tersebut dan selanjutnya dari gambaran tersebut ditunjukkan syarat
keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian tiga sektor.
Aliran Pendapatan Dan Pengeluaran
Campur
tangan pemerintah dalam perekonomian akan menimbulkan tiga jenis aliran baru
dalam sirkuasi aliran pendapatan. Ketiga jenis aliran yang baru tersebut adalah
:
1. Pembayaran
pajak oleh rumah tangga dan perusahaan kepada pemerintah. Pembayaran pajak
tersebut menimbulkan pendapatan kepada pihak pemerintah. Ia merupakan sumber
pendapatan pemerintah yang terutama.
2. Aliran
baru yang kedua adalah pengeluaran dari sektor pemerintah ke sektor perusahaan.
Aliran ini menggambarkan nilai pengeluaran pemerintah ke atas barang-barang dan
jasa-jasa yang diproduksikan oleh sektor perusahaan .
3. Aliran
yang ketiga adalah aliran pendapatan dari sektor pemerintah ke sektor rumah
tangga. Aliran ini timbul sebagai akibat dari pembayaran keatas konsumsi
faktor-faktor produksi yang dimiliki sektor rumah tangga oleh pemerintah.[1]
C.
Syarat
Keseimbangan
Dalam
suatu perekonomian keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai apabila:
penawaran agregat adalah sama dengan pengeluaran agregat. Dalam perekonomian
yang tidak melakukan perdagangan luar negeri, penawaran agregat adalah sama
dengan pendapatan nasionalnya (Y), yaitu sama dengan nilai barang dan jasa yang
diproduksikan dalam perekonomian dalam suatu periode tertentu. Pengeluaran
agregat, atau pengeluaran yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam perekonomian
tersebut, meliputi tiga jenis perbelanjaan: konsumsi rumah tangga
, investasi perusahaan
dan pengeluaran pemerintah membeli barang dan
jasa
. Dengan demikian
keadaan yang menciptakan keseimbangan dalam perekonomian tiga sektor adalah:
penawaran agregat = pengeluaran agregat
, atau :
.
Kegiatan
sektor perusahaan untuk memproduksikan barang dan jasa akan mewujudkan aliran
pendapatan ke sektor rumah tangga (gaji dan upah, sewa, bunga dan
keuntungan)dan aliran ini sama nilainya dengan pendapatan nasional
. Dalam perekonomian tiga sektor I dan G adalah
suntikan kedalam sirkulasi aliran pendapatan, sedangkan S dan T adalah
kebocoran. Dengan demikian, dalam keseimbangan ekonomi tiga sektor juga berlaku
keadaan : suntikan = bocoran. Sebagai kesimpulan dapatlah dirumuskan bahwa
dalam perekonomian tiga setor yang mencapai keseimbangan akan berlaku keadaan
yang berikut
dan 
Keseimbangan
dalam perekonomian tertutup
Keseimbangan
perekonomian negara akan dicapai apabila penawaran agregat sama dengan
perbelanjaan agregat. Disamping itu keseimbangan dapat pula ditunjukkan melalui
pendekatan suntikan-bocoran.
Penentuan
tingkat keseimbangan secara grafik
Dalam
perekonomian tertutup perbelanjaan agrgat dibedakan kepada tiga komponen.
Konsumsi rumah tangga, investasi swasta, dan pengeluaran pemerintah. Dengan
demikian keseimbangan pendapaan nasional dicapai pada keadaan yang berikut : Y=
C + I + G. Nilai Y menggambarkan pendapatan nasional atau penawaran agregat
yang wujud, manakala C + I + G adalah perbelanjaan agregat dalam ekonomi tiga
sektor. Pada keseimbangan, fungsi perbelanjaan agregat C + I + G memotong garis
45 derajat, dan pada titik perpotongan tersebut (titik E) perbelanjaan agregat
adalah sama dengan pendapatan nasional dan berarti syarat keseimbangan Y= C + I
+ G dipenuhi.
Menentukan
pendapatan nasional pada keseimbangan
Untuk
menentukan pendapatan nasional pada keseimbangan akan digunakan
pemisalan-pemisalan berikut.
i.
Fungsi konsumsi :
+b Yd.
ii.
Pengeluaran pemerintahan :
0.
iii.
Investasi perusahaan : I0.
iv.
Pajak yang dipungut pemerintah :
Kasus
I : pajak tetap sebanyak T0.
Kasus
II : pajak proporsional ebanyak tY.
Berdasarkan
kepada pemisalan-pemisalah diatas pendapatan nasional dalam perekonomian yang
menggunakan sistem pajak tetap (kasus I) adalah seperti ditunjukkan dalam
perhitungan berikut :
Untuk
kasus II, yaitu apabila dimisalkan sistem pajak adalah paja proporsional,
pendapatan nasional nasional pada keseimbangan adalah seperti ditentukan oleh
penghitungan berikut:

D.
Jenis-Jenis
Pajak
Dalam
setiap perekonomian pemerintah perlu melakukan berbagai jenis perbelanjaan. Pengeluaran-pengeluaran
untuk membiayai administrasi pemerintah, membangun dan memperbaiki
infrastruktur, menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, dan membiayai
anggota polisi dan tentara untuk menjaga keamanan merupakan pengeluaran yang tidak
boleh dielakkan pemerintah. Untuk dapat membiayai pengeluaran tersebut
pemerintah perlu mencari dana. Dana tersebut terutama diperoleh dari pungutan
pajak ke atas rumah tangga dan perusahaan. Uraian dibawah ini secara ringkas
menerangkan struktur pajak yang menjadi sumber dana untuk membiayai pengeluaran
pemerintah.
1.
Berdasarkan Pihak Yang Menanggung
Pajak
langsung dan pajak tak langsung
a. Pajak
langsung
Pajak langsung yang
berarti jenis pungutan pemerintah yang secara langsung dikumpulkan dari pihak
yang wajib membayar pajak. Setiap individu yang bekerja dan perusahaan yang
menjalankan kegiatan dan memperoleh keuntungan wajib membayar pajak.
b. Pajak
tak langsung
Pajak tak langsung
adalah pajak yang bebannya dapat dipindah-pindahkan kepada pihak lain. Salah
satu jenis pajak tak langsung yang penting adalah pajak impor. Biasanya, pada
akhirnya yang akan menanggung beban pajak tersebut adalah para konsumen. Yang
mula-mula membayar pajak adalah perusahaan-perusahaan yang mengimpir barang.
Akan tetapi, pada waktu menjual barang impor tersebut, pengimpor akan
menambahkan pajak impor dibayarnya dalam menentukan harga penjualannya.
2. Berdasarkan Pihak
Yang Memungut
Berdasarkan pihak yang memungut, pajak dibedakan
menjadi pajak negara dan pajak daerah.
a.
Pajak Negara
Pajak
negara atau pajak pusat adalah pajak yang dipungut pemerintah pusat. Pajak
pusat merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang akan digunakan untuk
pembiayaan pembangunan. Pajak pusat diatur dalam suatu peraturan yang disebut
undang-undang tentang perpajakan nasional. Pelaksanaan
pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Contoh pajak
negara adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh), Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjalan (PPn), dan Bea Materai
b.
Pajak Daerah
Pajak daerah pajak yang dipungut oleh pemerintah
daerah. Pajak daerah merupakan salah satu sumber
penerimaan pemerintah daerah. Setiap daerah mempunyai objek pajak
tersendiri. Hal ini sesuai dengan peraturan daerah masing-masing. Pajak daerah
diatur dalam suatu peraturan yang disebut peraturan
daerah (PERDA).Pelaksanaa pemungutannya dilakukan oleh Dinas
Pendapatan Daerah. Contoh pajak daerah adalah iuran kebersihan, retribusi masuk
terminal, pajak tontonan, pajak reklame retribusi parkir, dan retribusi galian
pasir.
3. Berdasarkan
sifatnya
Berdasarkan sifatnya, pajak dibedakan menjadi pajak
subjektif dan pajak objektif
a. Pajak subjektif
Pajak Subjektif adalah pajak ysng memperhatikan
kondisi/keadaan wajib pajak. Dalam hal ini penentuan besarnya pajak harus ada
alasan objektif yang
berhubungan
erat dengan kemammpuan membayar wajib pajak. Jenis pajak yang termasuk pajak
subjektif ialah Pajak Penghasilan (PPh).
b. Pajak Objektif
Pajak objektif adalah pajak yang berdasarkan pada
objeknya tanpa memperhatikan keadaan wajib pajak. Jenis pajak yang termasuk
dalam pajak objektif adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn-BM).
E.
Unsur-Unsur Pajak
Terdapat unsur penting yang terdapat dalam pajak yaitu
subjek pajak, objek pajak,dan tarif pajak.
1. Subjek Pajak
Subjek pajak yang disebut juga wajib pajak adalah
orang atau badanyang menurut ketentuan wajib membayar pajak kepada negara.
Menurut ketentuan setiap wajib pajak harus memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP) yang diperoleh dengan cara mendaftarkan diri kepada Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) diwilayah dimana wajib pajak berkedudukan atau bertempat
tinggal.
Selanjutnya, setiap wajib pajak harus mengisi
formulir Surat Pemberitahuan T ahunan (SPT) dan menyampaikannya
kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di wilayah dimana wajib pajak berkedudukan
atau bertempat tinggal. SPT merupakan perhitungan pajak terutang dalam satu
tahun pajak, biasanya selama 12 bulan.
2. Objek Pajak
Objek pajak adalah semua penghasilan yang benar-benar
diterima atau diperoleh, baik dari kegiatan usaha maupun dari luar kegiatan
usaha. Contohnya, laba usaha setelah dikurangi dengan biaya-biaya, gaji,
honorarium, hasil sewa, bonus, komisi, dan bunga.
3. Tarif Pajak
Tarif pajak adalah dasar pengenaan besarnya pajak yang
harus dibayar oleh subjek pajak terhadap objek yang
menjadi tanggungannya. Tarif pajak biasanya berupa
persentase (%). Secara umum, besar kecilnya pajak yang dibayar ditetapkan atau
dihitung dengan sistem tarif proporsional, progresif, dan degresif.[3]
a. Pajak
regresif
Sistem
pajak yang persentasi pungutan pajaknya menurun apabila pendapatan yang dikenakan pajak menjadi bertambah tinggi
dinamakan pajak regresif. Dalam sistem ini, pada pendapatan rendah, pajak yang
dipungut meliputi bagian yang tinggi dari pendapatan tersebut. Tetapi, semakin
tinggi pendapatan semakin kecil persentasi pajak itu dibandingkan dengan
keseluruhan pendapatan. Nilai pajak yang
sama besarnya tana memerhatikan pendapatan seorang dapat digolongkan sebagai
pajak regresif. Pajak impor dan pajak penjualan dapat digolongkan sebagai ajak
regresif, yaitu kepada orang kaya pajak tersebut merupakan sebagian kecil dari
pendapatannya. Tetapi untuk golongan miskin, ia meliputi persentasi yang lebih
besar kepada pendapatannya. Pembayaran
fiskal untuk orang yang berpergian ke luar negeri meruakan conth lain dari
pajak regresif.
b. Pajak
proporsional
Persentasi
pungutan pajak yang tetap besarnya pada berbagai tingkat pendapatan, yaitu dari
pendapatan yang sangat rendah kepada yang sangat tinggi dinamakan pajak
proporsional. Dalam sistem pajak seperti ini tidak dibedakan diantara penduduk
yang kaya atau yang miskin dan diantara perusahaan besar dan perusahaan kecil.
Mereka harus membayar pajak menurut persentasi yang tetap. Walau bagaimanapun,
dalam nilai nomin alnya, makin tinggi endpatan atau kekayaan, makin tinggi pula
jumlah pajak yang akan dibayar. Dibanyak negara, sistem pajak ini digunakan
dalam memungut pajak pendapatan (keuntungan) perusahaan-perusahaan yang
berbentuk perseroan.
c. Pajak
progresif
Sistem
pajak yang persentasinya bertambah apabila pendapatan semakin meningkat
dinamakan pajak progresif. Pajak progresif menyebabkan pertambahan nominal
pajak yang dibayar akan menjadi semakin cepat apabila pendapatan semakin
tinggi. Di berbagai negara sistem pajak progresif digunakan untuk memungut
pajak pendapatan orang-orang yang bekerja makan gaji. Tujuan utamanya adalah
untuk memperoleh pendapatan pajak yang lebih banyak. Disamping itu sistem itu
bertujuan untuk lebih meratakan pendapatan.[4]
F.
Efek
Pajak Keatas Konsumsi Dan Tabungan
Dalam
perekonomian tiga sektor pendapatan disposebel telah menjadi lebih kecil dari pendapatan
nasional . dalam perekonomian yang telah mengenakan pajak, perhubungan
dianatara pendapatan disposebel dan pendapatan nasional dapat dinyatakan secara
persamaan berikut : Yd =Y-T
Yaitu,
pendapatan disposebel (Yd) adalah sama dengan pendapatan nasional
(Y) dikurangi oleh pajak (T).
Penurunan
pendapatan disposebel akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah tangga. Hal
ini disebebkan karena pajak yang dibayarkan mengurangi kemampuannya untuk
melakukan pengeluaran konsumsi dan menabung. Berdasarkan kepada sifat pengaruh
pajak kepada pendapatan disposebel, pengeluaran konsumsi dan tabungan, secara
umum dapat dirumuskan:
i.
Pajak yang dipungut akan mengurangi
pendapatan disposebel sebanyak pajak yang dipungut tersebut. Dalam persamaan :
Yd=Y-T
ii.
Penurunan pendapatan disposebel menyebabkan pengeluaran
konsumsi dan tabungan rumah tanga akan berkurang pada berbagai tingkat
pendapatan.
G.
Efek
Pajak Terhadap Konsumsi Dan Tabungan
Dalam perekonomian yang telah mengenakan pajak,
perhubungan diantara pendapatan disposibel dan pendapatan nasional dapat
dinyatakan secara berikut:
Pendapatan
disposibel (Yd) = Pendapatan nasional (Y) – Pajak (T)
Penurunan pendapatan disposebel akan mengurangi
konsumsi dan tabungan rumah tangga. Hal ini disebabkan karena pajak yang
dibayarkannya mengurangi kemampuannya untuk melakukan pengeluaran konsumsi dan
menabung. Pajak yang dipungut akan mengurangi pendapatan disposibel sebanyak
pajak yang dipungut. Penurunan pendapatan disposibel menyebabkan pengeluaran
konsumsi dan tabungan rumah tangga akan berkurang pada berbagai tingkat
pendapatan. Walaupun bentuk sistem pajak yaitu pajak tetap pemungutan pajak
akan mengakibatkan konsumsi dan tabungan rumah tangga berkurang sebanyak yang
ditentukan oleh persamaan berikut:
1.
Pengeluaran
Pemerintah
Pajak yang diterima pemerintah akan digunakan untuk
membiayai berbagai kegiatan pemerintah. Dinegara-negara yang sudah sangat maju,
Pajak adalah sumber utama dari pembelanjaan pemerintah, sebagian dari pengeluaran
pemerintah adalah untuk membiayai administrasi pemerintahan dan untuk membiayai
kegiatan-kegiatan pembangunan, membayar gaji pegawai-pegawai pemerintah,
membiayai sistem pendidikan dan kesehatan rakyat, membiayai pembelanjaan untuk
angkatan bersenjata dan membiayai berbagai jenis infrastruktur yang penting
artinya dalam pembangunan adalah beberapa bidang penting yang akan dibiayai
pemerintah.
2.
Penentu-Penentu
Pengeluaran Pemerintah
a.
Proyeksi jumlah pajak
yang di terima: Dalam menyusun anggaran belanja pemerintah harus terlebih
dahulu membuat proyeksi mengenai jumlah pajak yang akan diterimanya. Makin
banyak jumlah pajak yang akan dapat di kumpulkan, makin banyak pula
perbelanjaan pemerintah yang akan di lakukan.
b.
Tujuan-tujuan ekonomi
yang ingin dicapai: Mengatasi masalah pengangguran, menghidari inflasi dan
mempercepat pembangunan ekonomi. Untuk mempercepat kegiatan tersebut seringkali
membelanjakan uang yang lebih besar dari pendapatan yang di peroleh oleh pajak.
c.
Pertimbangan politik
dan keamanan: Pertimbangan-pertimbangan politik dan kestabilan negara selalu
menjadi salah satu tujuan penting dalam menyusun anggaran belanja pemerintah.
Kekacauan politik, keamanan. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kenaikan
perbelanjaan pemerintah yang sangat besar.
3.
Fungsi Pengeluaran Pemerintah
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah
dapat disimpulkan bahwa pendapatan nasional tidak memegang peranan yang penting dalam menentukan
perbelanjaan pemerintah. Dengan kata lain pengeluaran pemerintah pada suatu
periode tertentu dan perubahannya dari satu periode ke periode lainnya tidak
didasarkan kepada tingkat pendapatan nasional dan pertumbuhan pendapatan
nasional. Dalam masa kemunduran ekonomi, misalnya, pendapatan pajak berkurang.
Tetapi untuk mengatasi pengangguran itu pemerintah perlu melakukan lebih banyak
program-program pembangunan, maka pengeluaran pemerintah perlu ditambah. Sebaliknya,
pada waktu inflasi dan tingkat kemakmuran tinggi, pemerintah harus lebih
berhati-hati dalam perbelanjaannya. Harus dijaga agar pengeluaran pemerintah
tidak memburuk keadaan inflasi yang berlaku. [6]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ekonomi tiga sektor adalah perekonomian yang meliputi
dalam sektor perusahaan, rumah tangga dan pemerintah. Pajak yang dipungut
pemerintah dapat dibedakan menjadi beberapa cara. Cara yang pertama adalah
membedakannya dengan cara pajak langsung dan pajak tak langsung. Cara lain
adalah pajak regresif, pajak proporsional dan pajak progresif. Keseimbangan PN
dapat ditunjukkan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan pengeluaran agregat,
penawaran agregat dan pendekatan suntikan bocoran. Multiplier dalam ekonomi
tiga sektor dapat dibedakan kepada dua jenis yaitu multiplier dalam sistem
pajak tetap dan multiplier dalam sistem pajak proporsional. Jenis- jenis
penstabilan otomatik yang utama adalah pajak proporsional dan pajak progresif
program asuransi pengangguran. Sistem harga minimum kebijakan fiskal
diskresioner dilakukan dengan menambah pengeluaran agregat pada waktu
pengangguran mengurangi pada waktu inflasi.
B.
Saran
Dalam
proses menyelesaikan makalah ini penulis menyadari masih banyaknya kekurangan serta
kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang membaca
makalah kami selalu kami nantikan sebagai acuan kami untuk menjadi lebih baik
lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Sukirno
Sadono, Makroekonomi Modern Pengembangan
Pemikiran dari Klasik Hingga keynesian Baru, Jakarta: Raja Grafindo, 2012.
Sukirno
Sadono, Makroekonomi Teori Pengantar
“Edisi Ketiga”, Jakarta: Raja Grafindo Prasada, 2016.
Suparmono,
“Pengantar Ekonomi Makro”, AMPYKPN. Yogyakarta. 2002
Keseimbangan
Ekonomi Tiga Sektor.
Di Unduh Pada Hari Sabtu 18 Maret 2017.
http://www.ilmuekonomi.net/2015/10/kegiatan-dan-pengertian-perekonomian-3-sektor.html. Di Unduh Pada Hari Sabtu 18 Maret 2017.
